
Film ini mengisahkan Suzanna (Luna Maya) dan Satria (Herjunot Ali) yang sudah menikah selama lima tahun tapi belum punya anak. Suatu ketika Suzanna hamil, tapi sayangnya Satria harus dinas keluar negeri.[5]
Kepergian Satria dimanfaatkan oleh empat karyawannya; Jonal (Verdi Solaiman), Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), dan Gino (Kiki Narendra). Mereka dendam kepada Satria dan berniat merampok rumahnya ketika si tuan rumah tak ada. Rencana perampokan itu berujung kematian Suzanna.[5]
Kawanan perampok panik dan mengubur jenazah istri majikannya di belakang rumah. Anehnya, besok hari Suzanna beraktivitas seperti biasa, seperti tak terjadi apa-apa.[5]
Pemeran
- Luna Maya sebagai Suzzanna
- Herjunot Ali sebagai Satria, suami Suzzanna
- Teuku Rifnu Wikana sebagai Umar, buruh pabrik karyawan Satria
- Alex Abbad sebagai Dudun, buruh pabrik karyawan Satria
- Verdi Solaiman sebagai Jonal, buruh pabrik karyawan Satria
- Kiki Narendra sebagai Gino, buruh pabrik karyawan Satria
- Asri Welas sebagai Mia, asisten rumah tangga Suzzanna
- Opie Kumis sebagai Pak Rojali, asisten rumah tangga Suzzanna
- Ence Bagus sebagai Tohir, asisten rumah tangga Suzzanna
- Norman R. Akyuwen sebagai Mbah Turu, dukun dan paman Gino
- Clift Sangra sebagai Pak Bekti, atasan Satria
Produksi
Film ini disutradarai oleh Rocky Soraya dan Anggy Umbara[2] serta diproduseri oleh Sunil Soraya.[5] Menurut Sunil, film ini bukanlah produksi ulang film Sundel Bolong. Judul “Bernapas dalam Kubur” juga seolah perpaduan dua film Suzanna, Beranak Dalam Kubur (1970) dan Bernafas dalam Lumpur (1971). Namun, menurut produser Sunil, kisah “Bernapas dalam Kubur” benar-benar baru.[5]
Menurut Sunil, proyek film ini sejatinya dimulai sejak lima tahun lalu. Pihaknya mengaku kesulitan mencari aktris yang pas untuk menghidupkan kembali Suzanna. Ia sampai menggunakan jasa tim tata rias dari Rusia. Suatu ketika, Luna Maya terpilih. Tantangan lain muncul ketika sutradara berganti dari Anggy Umbara menjadi Rocky Soraya. Sunil menyatakan ini bukan karena ada prahara. Pergantian itu menyebabkan Soraya Intercine Films harus mengadakan syuting ulang. Rocky Soraya mengerjakan sebanyak 70 persen adegan termasuk adegan pembuka dan penutup. Secara total, syuting mencapai 52 hari. Cut pertama film ini mencapai 4,5 jam; 70 persen di antaranya dari hasil reshoot.[5]
Tantangan-tantangan itu membuat ongkos produksi membesar. Sunil tidak mau menyebut angka, tapi menurutnya tidak beda jauh dengan Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, film epik yang punya set mewah dan jadi film termahal sepanjang sejarah Soraya Intercine Films. Sementara yang bikin biaya produksi film membengkak bukan hanya dari set mewah tetapi dari syuting ber-setting tahun 80-an, perbaikan, reshoot, dan tim yang begitu besar.
Download in here
SEMOGA BERMANFAAT:)